Minggu, 09 Desember 2012

asuhan keperawatan pneumonia pada anak


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Penyakit salauran nafas menjadi penyebab angka kematian dan kecacatn yang tinggi diseluruh dunia. Sekitar 80% dari seluruh kasus baru praktek umum berhubungan dengan infeksi saluran nafas yang terjadi di masyarakat atau didalam rumah sakit/pusat perawatan. Pneumonia yang merupakan bentuk infeksi saluran nafas bawah akut diparenkim paru yang serius dijumpai sekitar 15%-20%.
Kejadian PN di ICU lebih sering daripada PN diruangan umun, yaitu dijumpai pada hamper 25% dari semua infeksi pada 9-27% dari pasien yang diintubasi. Pneumonia dapat terjadi pada orang normal tanpa kelainan iminitas yang jelas. Namun pada kebanyakan pasien dewasa yang menderita pneumonia didapati adanya satu atau lebih penyakit dasar yang mengganggu daya tahan tubuh.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas yaitu:
1.                  bagaimanakah konsep medis tentang Pneumonia?
2.                  Bagaimanakah konsep dasar asuhan keperawatan dan penerapan askep  pada pasien pneumonia?


C.      Tujuan Pembelajaran
1.                     Agar Mahasiswa/I mampu mengerti konsep dasar medic dari gangguan system pernafasan :  pneumonia
2.                     Agar mahasiswa/I mampu memahami dan melakukan proses keperawatan pada pasien dengan gangguan system pernafasan : pneumonia


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi
Pneumonia adalah peradangan pada paru-.paru dan bronkiolus yang disebabkan oleh bakteri, jamur ,virus, atau aspirasi karena makanan atau benda asing. Pneumonia adalah infeksi pada parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian cairan didalam alveoli hal ini terjadi akibat adanya infeksi agen/ infeksius atau adanya kondisi yang mengganggu tekanan saluran trakheabronkialis. (Ngastiyah, 1997)
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Selain gambaran umum di atas, Pneumonia dapat dikenali berdasarkan pedoman tanda-tanda klinis lainnya dan pemeriksaan penunjang (Rontgen, Laboratorium). (Wilson, 2006)
B.     Etiologi
Beberapa penyebab dari pneumonia yaitu:
1.      Bakteri : streptococus pneumoniae, staphylococus aureus.
2.      Virus : Influenza, parainfluenza, adenovirus.
3.      Jamur : Candidiasis, histoplasmosis, aspergifosis, coccidioido mycosis, ryptococosis, pneumocytis carini.
4.      Aspirasi : Makanan, cairan, lambung.
5.      Inhalasi : Racun atau bahan kimia, rokok, debu dan gas.
Pneumonia virus bisa disebabkan oleh:Virus sinsisial pernafasan, Hantavirus, Virus influenza,Virus parainfluenza,Adenovirus, Rhinovirus, Virus herpes simpleks, Micoplasma (pada anak yang relatif besar). Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah:
1.      virus sinsisial pernafasan
2.      adenovirus
3.      virus parainfluenza
4.      virus influenza.
C.    Patofisiologi
Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organisme-organisme infeksius lainnya.
Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital, defisiensi imun didapat atau kongenital, atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut, partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus.
Kemungkinan lain, kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella, campak, rubella, CMV, virus Epstein-Barr, virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata.
Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Virus, mikoplasma, dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis.

Mekanisme daya tahan traktus respiratorius bagian bawah sangat efisien untuk mencegah infeksi dan terdiri dari:
1.      Susunan anatomis rongga hidung
2.      Jaringan limfoid di naso-oro-faring
3.      Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan sek¬ ret fiat yang dikeluarkan oleh set epitel tersebut.
4.      Refleks batuk
5.      Refleks epiglotis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang terinfeksi.
6.      Drainase sistem limfatik dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional.
7.      Fagositosis, aksi enzimatik dan respons imuno-humoral terutama dari imu¬ noglobulin A (IgA).
Anak dengan daya tahan terganggu akan menderita pneumonia berulang atau tidak mampu mengatasi penyakit ini dengan sempurna. Faktor lain yang mem¬pengaruhi timbulnya pneumonia ialah daya tahan badan yang menurun, misal¬nya akibat malnutrisi energi protein (MEP), penyakit menahun, faktor iatrogen seperti trauma pada paru, anestesia, aspirasi, pengobatan dengan antibiotika yang tidak sempurna.
D.    Tanda Dan Gejala
Batuk nonproduktif, Ingus (nasal discharge), Suara napas lemah, Retraksi intercosta, Penggunaan otot bantu nafas, Demam, Ronchii, Cyanosis, Leukositosis, Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar, Batuk, Sakit kepala, Kekakuan dan nyeri otot, Sesak nafas, Menggigil, Berkeringat, Lelah.
Gejala lain yang mungkin ditemukan adalah:
1.      kulit yang lembab
2.      mual dan muntah
3.      kekakuan sendi.
E.     Pemeriksaan Penunjang
1.      Pada pemeriksaan darah tepi dapat terjadi leukositosis dengan hitung jenis bergeser ke kiri.
2.      Bila fasilitas memungkinkan pemeriksaan analisis gas darah menunjukkan keadaan hipoksemia (karena ventilation perfusion mismatch). Kadar PaCO2 dapat rendah, normal atau meningkat tergantung kelainannya. Dapat terjadi asidosis respiratorik, asidosis metabolik, dan gagal nafas.
3.      Pemeriksaan kultur darah jarang memberikan hasil yang positif tetapi dapat membantu pada kasus yang tidak menunjukkan respon terhadap penanganan awal.
4.      Pada foto dada terlihat infiltrat alveolar yang dapat ditemukan di seluruh lapangan paru. Luasnya kelainan pada gambaran radiologis biasanya sebanding dengan derajat klinis penyakitnya, kecuali pada infeksi mikoplasma yang gambaran radiologisnya lebih berat daripada keadaan klinisnya. Gambaran lain yang dapat dijumpai :

a.       Konsolidasi pada satu lobus atau lebih pada pneumonia lobari
b.      Penebalan pleura pada pleuritis
c.       Komplikasi pneumonia seperti atelektasis, efusi pleura, pneumomediastinum, pneumotoraks, abses, pneumatokel
F.     Penatalaksanaan Terapi
1.      Bila dispnea berat berikan Oksigen
2.      IVFD ; cairan DG 10 % atau caiara 24 Kcl, Glukosa 10 % tetesan dibagi rata dalam 24 jam.
3.      Pengobatan: Penicilin Prokain 50.000 unit / kg BB / hari dan Kloramfenikol 75 mg /kg BB/ hari dibagi dalam 4 dosis.
G.    Konsep Asuhan Keperawatan
1.      PENGKAJIAN
a.       Data demografi
b.      Riwayat Masuk, Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure).
c.       Riwayat Penyakit Dahulu, Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia. Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis penderita
d.      Pengkajian
1)      Sistem Integumen : kulit pucat, cyanosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder), banyak keringat , suhu kulit meningkat, kemerahan
2)      Sistem Pulmonal : Pernafasan cuping hidung, hiperventilasi, batuk (produktif/nonproduktif), sputum banyak, penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan diafragma dan perut meningkat, Laju pernafasan meningkat, terdengar stridor, ronchii pada lapang paru,
3)      nSistem Cardiovaskuler : Denyut nadi meningkat, pembuluh darah vasokontriksi, kualitas darah menurun
4)      Sistem Neurosensori : GCS menurun, refleks menurun/normal, letargi
5)      Sistem Musculoskeletal : tonus otot menurun, nyeri otot/normal, retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan
6)      Sistem genitourinaria : produksi urine menurun/normal,
7)      Sistem digestif : konsistensi feses normal/diare
2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Kerusakan Pertukaran Gas berhubungan dengan Gangguan pengiriman oksigen.
b.      Infeksi, Resiko Tinggi Terhadap (penyebaran) berhungan dengan Ketidakadekuatan pertahanan utama.
c.       Ketdakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan pembentukan edema.
3.      Intervensi
Dx 1: Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pengiriman oksigen.
KH:
a.       Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distres pernapasan.
b.      Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi.
     Intervensi:
1)      Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan bernapas.
R : Manifestasi distres pernapasan tergantung pada/indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum.
2)      Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, napas dalam, dan batuk efektif.
R : Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi.
3)      Pertahankan istirahat tidur. Dorong menggunakan teknik relaksasi dan aktivitas senggang.
R : Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan/konsumsi oksigen untuk memudahkan perbaikan infeksi.
4)      Observasi penyimpangan kondisi, catat hipotensi banyaknya jumlah sputum merah muda/berdarah, pucat, sianosis, perubahan tingkat kesadaran, dispnea berat, gelisah.
R : Syok dan edema paru adalah penyebab umum kematian pada pneumonia dan membutuhkan intervensi medik segera.
Dx 2: Infeksi, Resiko Tinggi Terhadap (penyebaran) berhungan dengan Ketidakadekuatan pertahanan utama.
KH:
a.       Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi.
b.      Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi.
Intervensi:
1)      Pantau tanda vital dengan ketat, khusunya selama awal terapi.
R : Selama periode waktu ini, potensial komplikasi fatal (\hipotensi/syok) dapat terjadi.
2)      Anjurkan pasien memperhatikan pengeluaran sekret (mis., meningkatkan pengeluaran daripada menelannya) dan melaporkan perubahan warna, jumlah dan bau sekret.
R : Meskipun pasien dapat menemukan pengeluaran dan upaya membatasi atau menghindarinya, penting bahwa sputum harus dikeluarkan dengan cara aman.
3)      Tunjukkan/dorong tehnik mencuci tangan yang baik.
R : Efektif berarti menurunkan penyebaran /tambahan infeksi.
4)      Batasi pengunjung sesuai indikasi.
R : Menurunkan pemajanan terhadap patogen infeksi lain.
Dx 3: Ketdakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan pembentukan edema.
KH:
a.       Tidak mengalami aspirasi
b.      Menunjukkan batuk yang efektif dan peningkatan pertukaran udara dalam paru-paru.
Intervensi :
1)      Kaji frekuensi/kedalaman pernapasan dan gerakan dada.
R : Takipnea, pernapasan dangkal, dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan/atau cairan paru.
2)      Auskultasi area paru, catat area penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi napas adventisius, mis., krekels, megi.
R : Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. Bunyi napas bronkial (normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area konsolidasi. Krekels, ronki, dan mengi terdengar pada inspirasi dan/atau ekspirasi pada respons terhadap pengumpulan cairan, sekret kental, dan spasme jalan napas/obstruksi.
3)      Bantu pasien napas sering. Tunjukkan/bantu pasien mempelajari melakukan batuk, mis., menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi.
R : Napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan napas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan napas alami, membantu silia untuk mempertahankan jalan napas paten. Penekanan menurunkan ketidaknyamanan dada dan posisi duduk memungkinkan upaya napas lebih dalam dan lebih kuat.
4)      Penghisapan sesuai indikasi.
R : Merangsang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada pasien yang tak mampu melakukan karena batuk tak efektif atau penurunan tingkat kesadaran.



BAB III
TINJAUAN KASUS
A.    Pengkajian
I.                   Biodata
1)      Identitas klien
Nama                           : “An.R”
Umur                           : 7 bulan
Jenis kelamin               : Laki – laki
Agama                         : Islam
Alamat                          : Jl R.A. Kartini
Tanggal MRS              : 28 Oktober 2012
Jam MRS                    : 09.00 WIB
Tgl pengkajian : 28 Oktoer 2012
Jam pengkajian            : 10.00 WIB
Diagnosa medis           : Pneumonia
No. Registrasi             : 7544
2)      Identitas orang tua
Ayah
Nama               : “Tn.N”
Umur               : 28 Thn
Pendidikan      : SD
Pekerjaan         : Supir mobil
Agama             : Islam
Alamat            : Jl R.A. Kartini
Ibu
Nama               : “Ny.M”
Umur               : 24 Thn
Pendidikan      : SMP
Pekerjaa           : Ibu Rumah Tangga
Agama             : Islam
Alamat            : Jl R.A. Kartini
3)      Identitas sadara kandung
Klien adalah anak tunggal(tidak mempunyai saudara kandung)
II.                Keluhan utama/ alasan kunjungan
1)      Keluhan utama : Sesak nafas
2)      Alasan kunjungan : klien masuk rumah sakit dengan sesak nafas yang dialami sejak 3 hari yang lalu, batuk berlendir, beringus dan disertai dengan demam tinggi.
III.             Riwayat kesehatan
1)      Riwayat kesehatan sekarang
Ibu klien mengatakan anaknya mengalami sesak nafas sejak 3 hari yang lalu, batuk berlendir, beringus dan disertai dengan demam yang tinggi.
2)      Riwayat kesehatan masa lalu
a.       Prenatal care
1.      Pemeriksaan kehamilan: 5kali
2.      Keluhan selama hamil: tidak ada keluhan
3.      Riwayat terkena sinar dan terapi obat: tidak ada
4.      kenaikan berat badan selama hamil: lupa
5.      Imunisasi TT: 2kali
6.      Golongan darah ayah: tidak tahu
7.      Golongan darah ibu: B
b.      Natal
1.      1.Tempat melahirkan:di rumah
2.      2.Lama dan jenis persalinan:spontan
3.      3.Penolong persalinan:bidan
4.      4.Cara memudahkan persalinan:tidak ada
5.      5.Obat perangsang:tidak ada
6.      Komplikasi waktu lahir:tidak ada
c.       Post natal
1.      Kondisi bayi – BBL: 2,8 kg
- PBL: 50 cm
2.      Bayi kemerahan setelah lahir,tidak ada cianosis
“untuk semua usia”
d.      Penyakit yang pernah dialami:demam
e.       Kecelakaan yamg pernah dialami:tidak ada
f.       Tidak pernah dioperasi dan dirawat dirumah sakit sebelumnya
g.      Alergi makanan obat-obatan tidak ada
h.      Komsumsi obat-obatan bebas jika sakit:tidak pernah
i.        Perkembangan anak disebandingkan dengan anak yang lainnya sama
3)      Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan anggota keluarga ada yang batuk-batuk yang disertai darah, yaitu nenek yang tinggal serumah dengan klien. Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti diabetes melitus.
IV.             Riwayat Imunisasi




No.                             

Jenis Imunisasi
Waktu Pemberian
Reaksi Setelah Pemberian
1
2
3
4
5
BCG
DPT(I,II.III)
POLIO(I.II.III.IV)
CAMPAK
HEPATITIS(I,II,III)
1bulan
2bln,3bln.4bln
2bln.3bln.4bln,6bln
9bulan (belum dilakukan)
2bln,3bln,4bln
Demam
Tidak ada
Tidak ada
Tiak ada
-


V.                Riwayat tumbuh kembang
1.      Pertumbuhan fisik
a.       Berat badan baru lahir :2,8 kg
b.      Panjang badan: 50 cm
2.      Perkembangan tiap tahap
Usia anak saat
a.       Berguling :4bulan
b.      duduk :6bulan
c.       merangkak :7bulan
d.      senyum kepada orang lain pertama kali:2bulan
e.       bicara pertama kali:1bulan
f.       berpakaian tanpa bantuan orang lain:belum bisa
VI.             Riwayat nutrisi
1.      Pemberian asi
a.       a.Pertama kali disusui:1minggu setelah bayi lahir
b.      b.cara pemberian:setiap kali bayi menangis
2.      Pola perubahan nutrisi tiap tahapan sampai nutrisi saat ini
usia  0 – 6 bulan: ASI
usia 7 bulan :  ASI + bubur beras merah
VII.          Riwayat psikososial
1.      Anak tunggal
2.      lingkungan berada di kota
3.      rumah dekat dengan masjid
4.      tidak ada tempat bermain
5.      tidak punya kamar sendiri
6.      ada tangga yang berbahaya
7.      anak tidak punya ruang bermain
8.      hubungan antara anggota keluarga harmonis
9.      pengasuh anak adalah ibunya sendiri
VIII.       Riwayat spiritual
Support sistem dalam keluarga: Orang tua klien selalu berdoa agar klien cepat sembuh dan diberikan umur yang panjang oleh Allah SWT.

IX.             Reaksi hospitalisasi
1.      Pemahaman tengtang keluarga dan rawat inap
a)      Mengapa ibu membawa anaknya kerumah sakit: karena panik melihat anaknya
b)      Apakah dokter menceritakan keadaan anaknya: iya
c)      Perasaan orang tua pada saat ini: takut,cemas dan kwatir
2.      Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap
Klien belum mampu mengatakan mengapa ia berada di rumah sakit, klien hanya mampu menangis bila ada orang lain yang tidak ia kenal berada didekatnya.
X.                Aktivitas sehari-hari
Pola makan dan Minum
Pola Makan:
No
Pols makan
Kondisi sebelum sakit

Kondisi selama sakit

1.
2.
3.
4.
5.
6.
Selera makan                  Menu makanan          Frekuensi makan           
Makanan pantangan        Pembatasan pola makan Cara makan                   
Nafsu makan baik
ASI+ bubur beras merah
3x sehari
tidak ada
tidak ada
disuapin

Nafsu makan menurun
sesuai diet
2x sehari
makanan berminyak
tidak ada
disuapin

Pola minum:
Pola minum
Sebelum sakit
Selama sakit
Minuman
Frekuensi
Jumlah masukan
minum ASI + air putih,
 5-6 kali sehari,
± 1000-1500 ml/hari.

minum ASI + air putih, 3-5 kali sehari,
 ± 800-1000 ml/hari.


Pola Eliminasi
BAK
Pola BAK
Sebelum sakit
Selama sakit
Frekuensi BAK
Jumlah keluaran
Bau
Warna
4 – 5 kali sehari,
± 1200cc,
 khas,
jernih.

3 – 4 kali sehari,
± 800 cc,
khas,
jernih.


BAB
Pola BAB
Sebelum sakit
Selama sakit
Frekuensi BAB
Konsistensi
Bau
Warna
2 – 3 kali sehari,
lunak,
khas,
kuning.

1 kali sehari,
 keras,
 khas,
kuning.


Pola istirahat / tidur
Pola istirahat tidur
Sebelum sakit
Selama sakit
Banyaknya waktu tiudr
Gangguan waktu tidur
±10 jam per hari,
tidak  ada.

± 6 jam perhari,
tida bisa tidur karena sesak nafas.


Pola personal higine
Pola personal higyene
Sebelum sakit
Selama sakit
Mandi


Keramas
3 kali sehari ( di mandikan ibu ),

3 kali 1 minggu
2 kali sehari ( di mandikan ibu pakai waslap ),
2 kali 1 minggu.



Pola aktivitas
Sebelum sakit       
Selama sakit        
bisa bermain
hanya bisa menangis
XI.             Pemeriksaan fisik
Keadaan umum     : Lemah
1.      Tanda-tanda Vital
a)      Tekanan darah :100/80 mmHg
b)      Nadi               :98 x/Mnt
c)      Suhu                :39 ºC
d)     Pernapasan      :32 x/Mnt
2.      Antropometri
a)      Panjang badan   : 75 cm
b)      Berat badan       : 8 kg
c)      LILA                 : 10 cm
d)     Lingkar kepala : 30 cm
e)      Lingkar dada     : 35 cm
f)       Lingkar perut     : 40 cm
3.      Sistem pernapasan
a.       Hidung               : Simetris kiri & kanan, Ada secret dan ingus, pernapasan cuping hidung, tidak ada polip,tidak ada epistaksis, pernapasan dangkal dan cepat (takipneu).
b.      Leher                  : tidak nampak pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada tumor.
c.       Dada                  : bentuk dada simetris kiri dan kanan, perbandingan ukuran antara posterior dan anterior 1: 2, pergerakan dada tidak simetris.
d.      Suara napas        : Terdengar bunyi stridor, ronchii pada lapang paru.
e.       clubbing finger   : tidak ada.
4.      Sistem cardiovaskuler
a.       Kongjungtiva tidak anemia,bibir cyianosis,arteri karotis kuat,tekanan vena jugularis tidak meninggi.
b.      b. Suara jantung    : S1’ Lup’ ,S2’ Dup’.
c.       Tidak ada bising aorta & Mur-mur.
d.      Ukuran jantung normal,Capillary Refilling time 3 detik.
5.      Sistem pencernaan
a.       Gaster tidak kembung, tidak ada nyeri.
b.      Abdomen           : Hati tidak teraba, Lien & ginjal tidak teraba.
c.       Peristaltik          : 30 x/Mnt
6.      Sistem indra
a.       Mata
1)      Kelopak mata   : Tidak edema
2)       Bulu mata        : Menyebar
3)      Alis                  : Menyebar
4)      Mata                 : Reaksi terhadap rangsangan cahaya ada
b.      Hidung
1)      Stuktur hidung simetris kiri & kanan , penciuman baik, tidak ada trauma di hidung, mimisan tidak ada
2)      Ada secret dan ingus yang menghalangi penciuman
c.       Telinga
1)       Keadaan daun telinga simetris kiri & kanan ,kanal Auditorius kurang bersih, serumen tidak ada.
2)      Fungsi pendengaran normal ( jika klien di panggil maka ia akan menoleh ke arah suara tersebut.
7.      Sistem Saraf
a.       Fungsi Serebral
1)      Orientasi,daya ingat,perhatian dan perhitungan tidak Di identifikasi,
2)      Kesadaran
a)                 Eyes : 4
b)                Motorik : 6
c)                 Verbal : 5
d)                GCS : 15 (normal 13-15)
b.      Fungsi Cranial
1)      Nervus I (olfaktorius): Penciuman tidak diidentifikasi
2)      Nervus II (optikus): Visus dan lapang pandang tidak diidentifikasi
3)      Nervus III,IV,VI (okulomotorius,troklearis,abducens): Gerakan otot mata tidak diidentifikasi
4)      Nervus V (trigeminus):Motorik dan sensorik tidak dapat diidentifikasi.
5)      Nervus VII (facialis) ; Motorik dan sensorik tidak dapat diidentifikasi
6)      Nervus VIII (akustikus): Pendengaran normal. Keseimbangan tidak dapat diidentifikasi.
7)      Nervus IX (glosofaringeus): Fungsi pengecapan tidak dapat diidentifikasi.
8)      Nervus X (Vagus): Gerakan ovula tidakdapat diidentifikasi
9)      Nervus XI (aksesoris) : Sternocledomastoideus dan trapesius tidak dapat diidentifikasi
10)  Nervus XII (hipoglosus) : Gerakan lidah tidak dapat diidentifikasi
c.       Fungsi motorik
1)      Massa otot : lemah
2)      Tonus otot : menurun
3)      kekuatan otot : 25%(dapat menggerakan anggota gerak Tetapi tidak kuat menahan berat dan Tekanan pemeriksa.
d.      Fungsi sensorik
Suhu,gerakan,posisi dan diskriminasi tidak dapat Diiidentifikasi.
e.       Fungsi Cerebellum
Koordinasi dan keseimbangan tidak dapat dikaji.
f.       Refleks
Refleks bisep(+),Refleks trisep(+),dan Refleks babinski(+)
g.      Iritasi Meningen
Tidak ditemukan adanya kaku kuduk.
h.      Pemeriksaan tingkat perkembangan
Dengan menggunakan DDST :
1)      Motorik kasar     :  duduk tanpa pegangan, berdiri dengan pegangan
2)      Motorik halus     :  mencari benang, menggaruk manik- manik, memindahkan kubus, mengambil 1 kubus
3)      Bahasa                :  meniru bunyi kata- kata, dapat berkata papa atau mama
4)      Personal sosial   : tepuk tangan
8.      Sistem Muskuloskeletal
a.       Kepala
1)      Bentuk               : Normal
2)      Gerakan              : tidak diidentifikasi
b.      Vertebrae
Tidak ada kelainan bentuk seperti lordosis,scleosis,kifosis
c.       Pelvis
Klien belum jalan,ortholan barlaw’s tidak dilakukan
d.      Lutut
1)      Tidak bengkok dan tidak kaku,gerakan baik(aktif)
e.       Kaki
tidak bergerak.
f.       Tangan
tidak bengkak,tanga kanan terpasang infuse
9.      Sistem Integument
a)      Rambut   : hitam,tidak mudah dicabut
b)      kulit        : kulit pucat,temperatur hangat,teraba lembab,bulu kulit menyebar, tidak ada tahi lalat.
c)      Kuku      : warna merah muda,permukan datar,tidak mudah patah,kuku pendek dan agak bersih.
10.  Sistem Endokrin
a)      kelenjar thyroid                                      : tidak ada pembesaran
b)      Ekskresi urine berlebihan                       : tidak ada
c)      Polidipsi dan Poliphagi                          : tidak ada
d)     Keringat berlebihan                               : tidak ada
e)      e) Riwayat air seni dikerumuni semut        : tidak ada.
11.  Sistem Perkemihan
Edema palpebra tidak ada,edema anasarka tidak ada, kencing batu tidak ada.
12.  Sistem Reproduksi
Tidak dikaji
13.  Sistem Immune
a)      Alergi cuaca tidak ada,alergi debu tidak ada.
b)      Penyakit yang berhubungan dgn cuaca seperti batuk dan flu
c)      Bicara
1)      Ekspresive :Klien menangis jika merasakan sakit
2)      Reseptive : tidak diidentifikasi
XII.  Pemeriksaan penunjang
1)      Pemeriksaan darah lengkap (trombosit dan LED): Trombosit        = 450  103/µL
2)      LED                = 7 mm/jm
3)      kultur sputum : terdapat virus sinnsial pernafasan
XIII. Penatalaksanaan
a.       Terapi oksigen
b.      Cairan glukosa 10%
c.       Kloramfenikol 250 mg 3X sehari
B.     Analisa Data
Nama Pasien   : An.R
Umur               : 7 bulan
No.Registrasi  : 7544
No
Data penunjang
Kemungkinan penyebab
1











2





















3




DO:
- Klien nampak sesak
- pernapasan cuping hidung, pernapasan dangkal
- Klien nampak pucat dan cianosis

DS:
- Ibu klien mengatakan anaknya sesak.

DO:
- Klien nampak batuk berlendir dan beringus.
- terdengar bunyi ronchi, stridor pada lapang paru.
- Pergerakan dada tidak simetris.
- TTV:
T : 100/80
N : 98 X/ menit
S : 39 C
P : 32 X/ menit

DS :
- Ibu klien mengatakan bahwa anaknya
Batuk berlendir dan beringus.
- Klien mengatakan dadanya terasa sakit saat batuk.

DO :
- KU : Lemah
- Suu : 39 C
DS :
- Klien mengeluh badannya panas.

DO :
- Porsi makan tidak dihabiskan
- Selera makan menurun
- BB : 15 kg
TB : 120 cm

DS :
- Ibu klien mengatakan anaknya malas makan.
- Ibu klien mengatakan porsi makan anaknya tidak dihabiskan.      Edema antara kapiler dan alveoli

Peningkatan O2 dan Co2 yang berdifusi


 

Kecepatan difusi gas menurun

Difusi O2 dan Co2 terganggu

Pembentukan sel eksudat

Alveoli dibronciolus berisi eksudat eritrosit, fibrin dan bakteri

Penumpukan secret/mucus

Obtruksi jalan nafas














Stimulus chemoreseptor hipotalamus.

Termoregulator

Peningkatan metabolisme

Kompensasi cadangan lemak yang dipergunakan oleh tubuh


C.    Daftar Diagnosa Keperawatan
Nama Pasien   : An.R
No.Regristasi  : 7544
No
Tgl muncul
Diagnose keperawatan
Tgl teratasi

28 oktober 2012



29 oktober 2012



30 oktober 2012



31 oktober 2012
Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pengiriman oksigen

jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan mucus dijalan nafas

Hipertermi berhubungan dengan inflamasi pada jaringan  parenkim paru

Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia


D.    Intervensi keperawatan
Nama Pasien   : An.R
No.Regristasi  : 7544









E.     Evaluasi
Nama Pasien   : An.R
No.Regristasi  : 7544
No
Tanggal
Evaluasi
1.



2.





3.





4.
28 – 10 – 2012



29 – 10 – 2012





30-10-2012





31-10-2012
S : Klien mengeluh Sesak
O : Klien masih sesak
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi 2,3,4.
S : Klien mengeluh masih batuk dan beringus
O : Klien masih batuk
       Pergerakan dada tidak simetris,terdengar
       bunyi ronchi.
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi 2,3,4.
S : ibu Klien mengatakan anaknya badannya masih panas.
O : Badan klien masih teraba panas
Suhu 38 c
A: Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi 2, 3,4.
S : Ibu klien mengatakan anaknya malas makan
O : Klien malas makan
Klien hanya makan ½ porsi
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi 2,3, 4, 5

                       


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pneumonia adalah peradangan pada paru-.paru dan bronkiolus yang disebabkan oleh bakteri, jamur ,virus, atau aspirasi karena makanan atau benda asing. Insiden pneumonia berbeda untuk daerah yang satu dengan daerah yang lain. Dan dipengaruhi oleh musim, insiden meningkat pada usia lebih 4tahun. Dan menurun dengan meningkatnya umur. Faktor resiko yang meningkatkan insiden yaitu umur 2bulan, gisi kurang, BBLR, tidak mendapat hasil yang memadai, polusi udara, kepadatan tempat tinggal, imunisasi kurang lengkap, membentuk anak dan defisiensi vitamin A, dosis pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat, mortabilitas dapat diturunkan kurang dari 1% bila pasien disertai dengan mall nutrisi, energi, protein,(MEP) dan terlambat berobat, kasus yang tidak diobati maka angka mortalitasnya masih tinggi. Maka kita sebagai perawat yang profesional dalam melakukan proses keperawatan harus memperhatikan hal-hal tersebut. Agar implementasi yang kita berikan sesuai dengan diagnosa keperawatan dan tepat pada sasaran.
B.     Saran
Diharapkan sebagai mahasiswa keperawatan mampu untuk menerapkan asuhan keperawatan yang terbaik untuk pasiennya.


DAFTAR PUSTAKA
Biddulph, Jonn, dkk. 1999. Kesehatan Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif, dkk. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar